Jumlah Pernikahan di Indonesia Turun Selama Sedekade Terakhir, Kenapa?

Jumlah Pernikahan di Indonesia Turun Selama Sedekade Terakhir, Kenapa?

Smallest Font
Largest Font

Data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 6 Maret 2024 lalu menunjukan jumlah pernikahan di Indonesia turun selama satu dekade terakhir. Dikutip dari Databooks, laporan tersebut menggambarkan angka pernikahan di Indonesia itu dikumpulkan dari tahun 2013 sampai 2023.

Berdasarkan laporan Statistik Indonesia, terdapat 1,58 juta pernikahan dalam negeri pada 2023. Angka tersebut turun 7,51% dari tahun sebelumnya yaitu 2022. Angka itu menjadi rekor terendah selama 10 tahun terakhir, di mana sempat mencapai rekor tertingginya pada 2013 sebanyak 2,21 juta pernikahan.

Kecenderungan merosot yang cukup signifikan dalam jumlah pernikahan selama enam tahun terakhir. Paling mencolok penurunan terjadi dalam tiga tahun terakhir. Mulai dari tahun 2021 sampai 2023, jumlah pernikahan di Indonesia turun sebanyak 2 juta.

Tren tersebut dilihat hampir terjadi di seluruh wilayah, seperti DKI Jakarta yang turun sampai 4 ribu pernikahan. Sementara di Jawa Barat penurunannya mencapai 29 ribu. Sementara angka pernikahan terendah pada 2023 terjadi di Papua Selatan, hanya 871 pernikahan. Papua Pegunungan menjadi satu-satunya Provinsi yang tidak mencatatkan pernikahannya sepanjang 2023.

Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, penurunan angka pernikahan di Indonesia sejalan dengan penurunan angka kesuburan atau total fertility rate (FTR). Pada tahun 2023 sendiri angka kesuburan di Indonesia berada di angka 2,1.

“Analisis saya memang ini cocok dengan yang namanya total fertility rate (TFR), itu artinya rata-rata Perempuan melahirkan berapa anak rata-rata Perempuan, in ikan kalau di 2017 angkanya masih cukup tinggi 2,4 hampir 2,5,” ungkap Hasto dikutip dari detikcom.

Jumlah Pernikahan Turun, Ini Penyebab Penduduk Indonesia Tunda Nikah

Hasto menilai jika pemicu jumlah pernikahan turun di Indonesia tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di negara lainnya. Beberapa di antaranya seperti karena pendidikan, tempat tinggal, sampai masalah ekonomi.

Sementara dari beberapa studi, dirangkum penyebab jumlah pernikahan turun karena engganya penduduknya untuk menikah. Dikutip dari Viva, hal itu terjadi karena beberapa alasan seperti berikut ini:

  1. Tekanan Sosial

Tekanan sosial ini bisa berupa ketakutan akan kegagalan pernikahan yang mempengaruhi tingkat pernikahan, hubungan seksual, dan keinginan untuk mempunyai anak. Generasi muda +62 menunda belajar mengemudi, keluar dari orang tua, berkencan, dan menikah. Faktor-faktor tersebut dapat terkait dengan tingkat depresi yang lebih tinggi terjadi pada generasi baru, pada gilirannya bisa mempengaruhi hasrat seksualnya.

  1. Distorsi Digital

Distraksi media online, hiburan, dan media sosial mempengaruhi interaksi sosial secara fiisk semakin jarang dilakukan. Pilihan seperti menonton video streaming dan bermain game online yang lebih mudah diakses dapat mendorong rasa malas dalam berinteraksi di dunia nyata.

Fakta tersebut menciptakan generasi yang lebih terpaku dengan aktivitas digital. Pergeseran tersebut bisa berdampak negatif dengan hubungan dunia nyata, menyebabkan penurunan kepuasan dalam hubungan.

  1. Perubahan Prioritas dan Orientasi Karier

Generasi muda biasa memberikan prioritas pada karier mereka daripada pernikahan. Persaingan dalam mencapai kesuksesan professional serta tujuan pribadi menjadi lebih penting. Oleh karena itu banyak yang memandang pernikahan sebagai hambatan potensial terhadap usaha pribadi mereka.

Bentuk pernikahan lama dianggap memerlukan pengorbanan yang signifikan. Sehingga para generasi muda mungkin tidak ingin membuat pengorbanan tersebut saat mereka masih dalam proses menemukan jati diri.

  1. Rasa Takut untuk Berkomitmen

Pernikahan lekat dengan ide komitmen. Hal itu bisa menjadi intimidasi bagi generasi muda. Rasa takut kehilangan otonomi dan kemandirian menjadi faktor yang signifikan. Budaya kencan singkat, di mana hubungan seringkali bersifat sementara dan difokuskan kepada kepuasan seksual berbeda dengan kesan kekal dalam pernikahan. Komitmen dinilai sebagai ancaman terhadap keinginan akan kebebasan pribadi.

  1. Pergeseran Konsep Kebahagiaan dan Pemenuhan

Studi menunjukan jika generasi muda lebih cenderung percaya bahwa pernikahan bukan lagi menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan. Pengejaran kebahagiaan dan pemenuhan pribadi lebih diutamakan daripada harapan masyarakat soal pernikahan.

Tingginya tingkat kecemasan sampai depresi mungkin berkontribusi dengan penurunan minat dalam membentuk hubungan yang langgeng. Hal itu karena individu lebih fokus pada kesejahteraan dan pengalaman hidup mereka sendiri saja.

Meskipun faktor-faktor tersebut berkontribusi pada tren mengindari atau menunda pernikahan. Penting untuk dicatat jika pandangan individu berbeda-beda, dan sikap masyarakat dengan pernikahan terus berkembang.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Konten Terkait

Paling Banyak Dilihat