Mengenal Kepiting Tapal Kuda, Hewan Purba yang Terancam Punah

Mengenal Kepiting Tapal Kuda, Hewan Purba yang Terancam Punah

Smallest Font
Largest Font

Tanoniha.com— Kepiting tapal kuda sedang menjadi perbincangan netizen di media sosial. Pasalnya topik itu menjadi hangat karena adanya seorang pengguna media sosial X dulu Twitter mengklaim darah biru dari kepiting tapal kuda dapat dibandrol sekitar Rp700 juta per galonnya.

Lantas muncul pertanyaan apa yang membuat darah biru kepiting tapal kuda itu bisa mahal? Agar tidak bingung, simak yuk informasi tentang kepiting tapal kuda lebih dalam di bawah ini.

Kepiting Tapal Kuda, Hewan Tertua yang Hidup di Bumi

Saat melihat kepiting tapal kuda, bentuknya seperti makhluk dari luar bumi. Pasalnya, konon usianya lebih tua dari dinosaurus hewan tersebut sudah berevolusi ratusan juta tahun yang lalu, dan menjadi salah satu spesies tertua yang hidup di bumi. Dilansir dari Natural History Museum, jenis kepiting purban itu disebut usianya sudah 450 juta tahun dan sudah lolos dari ‘kiamat’ di zaman es.

Kini, fosil hidup tersebut tumbuh subur di dasar laut dengan memakan cacing, ganggang, sampai kerang, dan mangsa kecil lainnya yang dikeluarkannya dari sedimen dasar laut. Kepiting purba ini tidak memiliki rahang sehingga saat menghancurkan makanannya mereka lakukannya di antara kedua kakinya sebelum dimakan. Kepiting tapal kuda sendiri memiliki lima pasang kaki yang disebut chelicera, digunakannya untuk berjalan.

Baru-baru ini, kepiting tapal kuda Atlantik ditemukan dari Florida sampai Maine Utara dan di semenanjung Yucatan. Populasi terbanyaknya tinggal di Teluk Delaware. Pada bulan Mei sampai awal Juni, mereka mengerumuni pantai untuk bertelur dan berkembang biak. Dalam jumlah besar, mereka akan tiba saat air pasang saat bertepatan dengan bulan purnama atau bulan baru.

Cara bertelurnya, betina kepiting tapal kuda akan menggali sarang di pasir. Galian itu untuk mengubur sekitar 4.000 telur kecil berwarna biru kehijauan. Mereka bisa bertelur sekitar 20 kelompok telur setiap tahunnya. Telurnya membutuhkan waktu dua sampai empat minggu untuk menetas.

Bayi kepiting tapal kuda akan muncul. Ukurannya lebih kecil dari penghapus di pensil dan dengan cangkang hampir tembus pandang. Kepiting kecil itu akan mencari perairan dangkal dan terlindung untuk hidup. Mereka akan berganti kulit beberapa kali dalam satu tahun pertamanya, melepaskan cangkang lamanya untuk menampilkan cangkang baru pada bagian bawahnya.

Seiring bertambahnya usia, cangkang anak kepiting tapal kuda semakin gelap. Kepiting terus berganti kulit, namun frekuensinya semakin berkurang jika usianya bertambah. Kepiting tapal kuda sendiri mudah terdesak oleh arus dan ombak laut. Saat seekor kepiting terjebak dalam posisi terbalik, ia akan menggunakan ekornya yang disebut telson untuk membalikan badannya.

Kepiting tapal kuda menggunakan telsonnya untuk kemudi yang membantunya mengarahkan saat berenang terbalik. Mereka tidak berdaya melawan predator, seperti penyu, hiu, dan burung camar. Namun, cangkangnya yang keras menjadi perisai yang bagus untuk melindungi dirinya.

Kepiting tapal kuda sendiri termasuk jenis artropoda, jadi bukan merupakan kepiting sejati. Jenis itu lebih berkerabat dekat dengan laba-laba dan kalajengking dibandingkan krustasea atau kepiting. Mereka menjadi satu-satunya anggota ordo Xiphosura yang kini masih hidup. Seperi kalajengking, kepiting tapal kuda bisa menunjukan fluoresensi atau bersinar di bawah sinar matahari/UV alias blacklight atau cahaya hitam.  

 

Di alam liar, ribuan burung pantai akan turun untuk menikmati telur kepiting tapal kuda. Beberapa burung pantai yang mengandalkan telur kepiting tapal kuda seperi spesies Red Knot, Ruddy turnstone, dan Sanderling. Pasalnya, telur tersebut mengandung lemak dan protein untuk menggerakan penerbangan mereka dalam jarak jauh.

Kepiting Tapal Kuda Banyak Manfaat untuk Manusia, Hingga Terancam Punah

Para nelayan di beberapa negara menggunakan kepiting tapal kuda sebagai umpan untuk menangkap belut dan whelk atau siput laut. Hal itulah menjadi faktor yang membuat kepiting tapal kuda semakin sedikit. Bahkan di beberapa negara bagian, menangkap kepiting tapal kuda adalah tindakan illegal.

Menariknya lagi, kepiting tapal kuda sendiri memiliki darah berwarna biru yang sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia. Darah biru dari kepiting tapal kuda sangat penting untuk dunia modern sekarang. Darah mereka menjadi komponen penting dalam pengujian dalam dunia medis seperti menilai keamanan vaksin, suntikan insulin, dan banyak intervensi medis lainnya yang saat ini dimanfaatkan manusia.

Penulis studi terbaru tentang kepiting tapal kuda dari Sussex University, Rich Gorman mengatakan bahwa memanen kepiting tapal kuda untuk diambil darahnya sudah menyelematkan jutaan nyawa. “Jika Anda pernah diberi vaksin, Anda bisa berterima kasih kepada kepiting tapal kuda karena sudah memastikan suntikan kepada Anda aman,” kata Gorman dikutip dari The Guardian.

Mengutip dari Liputan6.com, darah biru kepiting tapal kuda mengandung enzim unik yang disebut limulus amebosit lisat atau LAL. Hal tersebut membuat darah menggumpal karena endotoksin bakteri yang dapat mematikan. Perusahaan biomedis menggunakan LAL itu untuk menguji obat-obatan, vaksin, implant dan lainnya untuk mengetahui endotoksin. Cara tersebut dipakai mereka untuk memastikan peralatan medis yang aman untuk manusia.

Sangking bermanfaatnya darah kepiting tapal kuda untuk kelangsungan hidup manusia, sayang banyak yang mati dalam proses pengambilan darahnya.  Melihat dari pentingnya kepiting tapal kuda untuk alam, jika terus dipanen mereka bisa punah. Hal itu akan berdampak pada populasi burung pantai yang bergantung pada mereka.

Sumber: CNN

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Konten Terkait